Program Magister Program studi Bahasa Indonesia Fakultas Pascasarjana Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) menjadi saksi Seminar Antarabangsa Siswazah Sastera dan Budaya Siri 3 2025 dengan tema “Kelestarian Bahasa, Sastra, dan Budaya Nusantara untuk Alaf 21”. Seminar ini dihadiri oleh 120 pemakalah dari berbagai perguruan tinggi ternama, termasuk Universitas Indraprasta PGRI, University Putra Malaysia (UPM), dan University Malaysia Sabah (UMS), dan Universiti Malaya yang mengikuti seminar baik secara luring maupun daring ujar Dr. Merry Lapasau, M.A selaku ketua panitia
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Unindra, Prof. Dr. Sumaryoto, yang memberikan sambutan hangat kepada seluruh peserta. Dalam kesempatan ini, Dekan Fakultas Pascasarjana Unindra, Dr. Ir. Sunar Wahid, dalam sambutannya menekankan pentingnya pelestarian bahasa, sastra, dan budaya Nusantara sebagai identitas dan kekayaan bangsa di tengah derasnya arus globalisasi. Menurut Dr. Ir. Sunar Wahid, kerja sama antara Unindra dan UPM merupakan contoh nyata hubungan baik kedua negara, sekaligus platform untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan ide-ide inovatif.
Dalam sambutannya, Dekan juga menyampaikan apresiasi atas partisipasi 120 pemakalah dari Indonesia dan Malaysia yang hadir secara langsung maupun virtual. Ia menekankan harapan agar seminar ini menjadi titik awal bagi pengembangan kerja sama yang lebih luas di bidang pendidikan dan penelitian. Sambutan tersebut ditutup dengan pantun selamat datang yang hangat, menambah suasana akrab dan bersahabat bagi seluruh peserta.
Seminar ini menampilkan dua pemateri kunci yang menghadirkan perspektif mendalam mengenai pelestarian budaya. Pemateri pertama, Prof. Dr. Sumaryoto, membawakan materi berjudul “Wayang sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO ditinjau dari Aspek Sastra dan Media Komunikasi”. Dalam paparan tersebut, Prof. Sumaryoto menekankan bahwa wayang bukan sekadar hiburan, melainkan tuntunan kehidupan yang sarat nilai moral. Ia menjelaskan bahwa setiap figur dan tampilan dalam wayang memiliki filosofi tertentu; misalnya, warna merah menandakan sifat pemarah, sementara karakter lainnya memiliki makna khusus yang mencerminkan kearifan lokal. Wayang, menurutnya, merupakan identitas bangsa yang merepresentasikan kearifan budaya Indonesia dan berperan sebagai media komunikasi yang sarat nilai filosofi, yang perlu terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pemateri kedua, Prof. Dr. Asmiaty Amat dari University Malaysia Sabah, membawakan materi “Pemerkasaan Bahasa dan Sastra di Malaysia”. Dalam presentasinya, Prof. Asmiaty menekankan pentingnya pengembangan struktur bahasa, kajian sastra melalui manuskrip dan teori sastra modern, serta integrasi budaya dengan teknologi. Ia menjelaskan bagaimana kemahiran guru, animasi, karakter dalam cerita lisan, podcast, penggunaan AI, digitalisasi, Natural Language Processing (NLP), dan bahasa figuratif dapat menjadi sarana efektif untuk memperkuat pelestarian dan pengajaran bahasa serta sastra.
Seminar ini bukan hanya menjadi ajang berbagi ilmu dan pengalaman, tetapi juga wadah penting untuk membangun jejaring akademik antar perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia. Partisipasi aktif para pemakalah dan diskusi mendalam mengenai inovasi pelestarian bahasa, sastra, dan budaya Nusantara menunjukkan komitmen bersama dalam menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi.
Dengan terselenggaranya Seminar Antarabangsa Siswazah Sastera dan Budaya Siri 3 2025, Universitas Indraprasta PGRI menegaskan perannya sebagai pusat akademik yang peduli terhadap pelestarian budaya Nusantara sekaligus mempersiapkan generasi muda agar mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjaga warisan budaya bangsa di era alaf 21.